
Persiapan untuk kejuaraan tinju bergengsi Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang, kini sedang dalam tahap intensif. Pengurus Besar Persatuan Tinju Indonesia (Perbati) memikul tanggung jawab besar, bukan hanya sebagai mandat dari pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, tetapi juga sebagai usaha nyata untuk meraih medali bagi Indonesia. Dengan jadwal yang sudah ditetapkan, atlet tinju nasional diharapkan dapat menunjukkan performa terbaik demi mengharumkan nama bangsa.
Proses Seleksi yang Ketat
Perbati menunjukkan keseriusan dalam menjalani proses pemilihan atlet. Seleksi dilakukan dengan ketelitian dan objektivitas tinggi, melibatkan Tim Review dari Kemenpora untuk memastikan hanya petinju yang berprestasi terbaik yang terpilih. Menurut Sekretaris Jenderal PB Perbati, Hengky Silatang, tidak ada toleransi terhadap praktik nepotisme dalam pemilihan ini.
“Semua proses seleksi harus berdasarkan kriteria yang jelas. Salah satu di antaranya adalah prestasi di SEA Games. Kami ingin mengemban amanah ini dengan serius,” ungkap Hengky saat konferensi pers di HS Boxing Camp, Ciseeng.
Atlet Tinju Nasional yang Siap Berlaga
Dalam pemusatan latihan nasional, lima petinju unggulan telah disiapkan untuk mewakili Indonesia. Di kategori putra, terdapat Vicky Tahumil Junior yang meraih medali emas di kelas 51 kg, Asri Udin dengan medali perak di 60 kg, dan Maikhel Roberrd Muskita yang juga berhasil membawa pulang perak di kelas 80 kg. Sementara di kategori putri, Nabila Maharani (54 kg) dan Huswatun Hasanah (63 kg), keduanya meraih medali perak di SEA Games 2025, menjadi harapan besar untuk meraih prestasi di level Asia.
Optimisme dan Tantangan yang Dihadapi
Optimisme menyelimuti tim, dengan Hengky menyatakan bahwa semua atlet memiliki peluang untuk meraih kesuksesan, meskipun ia menggarisbawahi beberapa nama sebagai kandidat kuat untuk naik podium.
“Semua atlet memiliki potensi. Namun, yang paling diharapkan adalah Muskita dan Huswatun,” tambahnya dengan keyakinan yang tinggi.
Persiapan Intensif Menghadapi Lawan Kelas Dunia
Namun, perjalanan menuju podium tidaklah mudah. Dominasi negara-negara kuat seperti Uzbekistan, Tajikistan, serta kekuatan regional seperti Thailand dan Filipina akan menjadi tantangan tersendiri bagi atlet tinju nasional. Untuk itu, Perbati telah merancang program pelatihan yang disiplin dan berlapis.
Sejak bulan Februari, para petinju terlibat dalam pelatihan di Ciseeng sebelum mengikuti pemusatan latihan internasional di Vietnam selama satu bulan, dilanjutkan dengan pelatihan di Uzbekistan selama tiga bulan. Di Uzbekistan, mereka akan berhadapan dengan lawan-lawan kelas dunia, termasuk juara Olimpiade, dalam sesi latihan yang intensif.
Kebijakan Ketat untuk Kesiapan Maksimal
Salah satu kebijakan yang diterapkan oleh Perbati adalah larangan bagi atlet untuk kembali ke Indonesia setelah berangkat ke luar negeri, hingga menjelang pertandingan di Nagoya. Kebijakan ini diambil untuk menjaga konsistensi performa para atlet.
“Kami ingin menjaga fokus mereka. Jangan sampai penurunan performa terjadi akibat faktor non-teknis seperti pola makan atau distraksi lainnya,” tegas Hengky.
Evaluasi dan Dukungan Pelatih yang Kuat
Setelah menjalani pelatihan di Uzbekistan, para petinju akan langsung menuju Nagoya tanpa jeda. Selama program berlangsung, evaluasi dilakukan secara ketat untuk memastikan semua atlet siap tampil secara maksimal di ajang bergengsi tersebut.
Dukungan dari pelatih juga menjadi pilar penting dalam persiapan ini. Program latihan di bawah bimbingan pelatih kepala Kamanit Narerak, serta pelatih nasional Patrick Timbowo dan Mathias Mandiangan, diharapkan dapat memaksimalkan potensi para atlet. Selain itu, aspek nutrisi dan kebutuhan atlet dijamin melalui dukungan dari Kemenpora serta inisiatif Ketua Umum PB Perbati sejak awal pemusatan latihan.
Mempersiapkan Generasi Muda untuk Masa Depan
Tidak hanya fokus pada atlet elite, Perbati juga mempersiapkan generasi muda. Sebanyak 15-16 petinju berusia 19-23 tahun sedang dilatih sebagai pelapis, sekaligus untuk menyongsong Kejuaraan Asia Junior 2026 yang akan diadakan di Jakarta pada bulan Juli mendatang.
Bagi Hengky, seluruh proses pelatihan ini bukan hanya sekadar mengejar hasil instan, tetapi juga untuk membangun generasi emas tinju Indonesia yang mampu bersaing di tingkat dunia.
“Perbati berkomitmen untuk melahirkan generasi emas tinju amatir. Kami ingin prestasi yang diraih berasal dari proses yang kuat dan berkelanjutan,” tutupnya.




